BAB
I
PENDAHULUAN
Suatu
perusahaan yang ingin tumbuh dan berkembang selalu berupaya meningkatkan
produktivitas kerja sebagai sistem organisasi tersebut, termasuk sistem
manajemen, sistem fungsional dan sistem operasional. Bukan merupakan hal yang
baru apabila dikatakan bahwa yang dimaksud sengan produktivitas ialah terdapatnya korelasi “terbalik” antara masukan
dan luaran. Artinya, suatu system dapat dikatakan produktif apabila masukan
yang diproses semakin sedikit untuk menghasilkan luaran yang semakin besar.
Tentu banyak cara yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya produktivitas
suatu sistem.
Produktivitas
sering pula dikaitkan dengan cara dan sistem yang efisien, sehingga proses
produksi berlangsung tepat waktu dan dengan demikian tidak diperlukan kerja
lembur dengan segala implikasinya, terutama implikasi biaya. Dan kiranya jelas
bahwa yang merupakan hal yang logis dan tepat apabila peningkatan produktivitas
dijadikan salah satu sasaran jangka panjang perusahaan dalam langkah
pelaksanaan strateginya.
Produktivitas
berasal dari kata “produktiv” artinya sesuatu yang mengandung potensi untuk
digali, sehingga produktivitas dapatlah dikatakan sesuatu proses kegitan yang
terstruktur guna menggali potensi yang ada dalam sebuah komoditi/objek.
Filosofi produktivitas sebenarnya dapat mengandung arti keinginan dan usaha
dari setiap manusia (individu atau kelompok) untuk selalu meningkatkan mutu
kehidupannya dan penghidupannya.
Secara
umum produktivitas diartikan atau dirumuskan sebagai perbandingan antara keluaran
(output) dengan pemasukan (input), sedangkan menurut Ambar Teguh Sulistiani dan
Rosidah (2003:126) mengemukakan bahwa produktivitas adalah “Menyangkut masalah
hasil akhir, yakni seberapa besar hasil akhir yang diperoleh didalam proses
produksi, dalam hal ini adalah efisiensi dan efektivitas”.
Sedangkan
menurut Malayu S.P Hasibuan (2003:126) produktivitas adalah: “Perbandingan
antara output (hasil) dengan input (masukan). Jika produktivitas naik ini hanya
dimungkinkan oleh adanya peningkatan efesiensi (waktu,bahan,tenaga) dan sistem
kerja, teknik produksi dan adanya peningkatan keterampilan dari tenaga
kerjanya”.
Dari
beberapa pendapat tersebut diatas sebenernya produktivitas memiliki dua
dimensi, pertama efektivitas yang mengarah kepada pencapaian untuk kerja
yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan berkualitas,
kuantitas, dan waktu. Kedua yaitu efesiensi yang berkaitan dengan upaya
membandingakan input dengan realisasi penggunaanya atau bagaimana pekerjaan
tersebut dilaksanakan.
Efesiensi
merupakan suatu ukuran dalam membandingkan input direncanakan dengan input
sebenarnya. Apabila ternyata input yang sebenarnya digunakan semakin besar
penghematannya, maka tingkat efesiensi semakin tinggi. Sedangkan efektivitas
merupakan ukuran yang memberikan gambaran suatu target yang dicapai. Apabila
kedua tersebut dikaitkan satu dengan yang lainnya, maka terjadinya peningkatan
efektivitas tidak akan selalu menjamin meningkatnya efesiensi.
Maka
dapat disimpulkan bahwa produktivitas merupakan perbandingan antara keluaran
serta masukan serta mengutarakan cara pemanfaatan baik terhadap sumbur-sumber
dalam memproduksi suatu barang atau jasa.
Dalam suatu
organisasi atau perusahaan Sumber Daya Manusia merupakan faktor yang paling
penting bagi keberlangsungan kinerja karyawan di dalam suatu organisasi atau
perusahaan, maka dapat kita lihat kenyataannya, ada organisasi atau perusahaan
yang memiliki Teknologi, Prosedur kerja dan Struktur organisasi yang sama,
tetapi dinamika atau mobilitas organisasi atau perusahaan satu dengan yang lain
berbeda-beda. Adanya mobilitas atau dinamika yang rendah tersebut tentunya
sangat tidak diharapkan oleh siapapun, apalagi diera globalisasi dimana terjadi
persaingan yang sangat ketat, maka organisasi yang berkinerja rendah akan
digilas oleh kompetitor atau pesaing. Bila organisasi yang tergilas oleh
kompetitor tersebut, tetap juga tidak melakukan perubahan, maka tidak mustahil
organisasi tersebut berada pada kondisi yang kritis, bahkan lebih mendekati
kehancuran.
Perlu juga
diperhatikan bahwa jumlah sumber daya manusia yang banyak juga belum dapat
digunakan sebagai pegangan bahwa sebuah organisasi atau perusahaan akan maju,
jika SDM yang ada tersebut kualitasnya rendah atau tidak produktif, bahkan
disebuah negara yang jumlah manusia banyak namun tidak produktif justru dapat
menjadi benalu untuk memberatkan negara. Untuk itu yang diperlukan adalah
manusia yang berkualitas, dan manusia yang berkualitas tersebut berhimpitan
langsung dengan manusia yang produktif, menjadi manusia yang produktif.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Produktivitas dan Kinerja Karyawan
Difinisi atau pengertian produktivitas
Filosofi dan spirit tentang produktivitas sudah ada
sejak awal peradaban manusia karena makna produktivitas adalah keinginan (the
will) dan upaya (effort) manusia untuk selalu meningkatkan kualitas
kehidupan dan penghidupan disegala bidang. Secara konseptual, produktivitas
adalah hubungan antara keluaran (output)
atau hasil (input) organisasi dengan
masukan yang diperlukan. Produktivitas dapat dikuantifikasi dengan membagi
keluaran dan masukan. Menaikan produktivitas dapat dilakukan dengan memperbaiki
rasio produktivitas, dengan menghasilkan lebih banyak keluaran (output)
yang lebih baik dengan tingkat masukan sumber daya tertentu
(Blecher, 1987:3 dalam Wibowo, 2007:265).
Produktivitas dipandang sebagai penggunaan yang
lebih intensif terhadap sumber-sumber konverensi seperti tenaga kerja dan mesin
yang jika diukur secara tepat dan benar-benar menunjukan suatu penampilan atau
efisiensi. Hakekatnya, melalui produktivitas manajemen dan para penentu
kebijakan mengarahkan efektivitas dan pelaksanaan organisasi perseorangan
secara menyeluruh, yang mencakup sedikit gambaran jelas seperti tidak adanya
rintangan dan kesulitan tingkat pembalikan, ketidak hadiran dan bahkan kepuasan
pelanggan.
Berdasarkan penjelasan teoritik di atas, dapat
diartikan bahwa untuk mengukur produktivitas kinerja dapat dilakukan melalui
pengukuran produktivitas fisik yang di dalamnya mencakup aspek kuantitas dan
aspek kualitas, serta dapat diukur pula melalui produktivitas nilai yang
cakupannya berdasarkan nilai kemampuan, perilaku, disipin, motivasi dan
komitmen terhadap pekerjaan. Hal tersebut itu dilandaskan atas dasar untuk
pencapaian kinerja yang tinggi serta untuk meningkatkan rasa kepuasan
pelanggan, yang telah diberikan oleh pekerja yang dalam hal ini harus
diperhatikan.
Produktivitas pada dasarnya mencakup sikap mental
dan perilaku yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan (continuous
improvement), dan mempunyai pandangan bahwa kinerja hari ini harus lebih
baik dari hari kemarin dan kinerja hari esok harus lebih baik dari prestasi
hari ini. Pola perilaku yang demikian akan mendorong bawahan untuk senantiasa
terus berusaha meningkatkan kerja, sebagai stimulus untuk selalu berbuat yang
baik.
Produktivitas sering pula dikaitkan dengan cara dan
sistem yang efisien, sehingga proses produksi berlangsung tepat waktu dan
dengan demikian tidak diperlukan kerja lembur dengan segala implikasinya,
terutama implikasi biaya dan kiranya jelas bahwa yang merupakan hal yang logis
dan tepat apabila peningkatan produktivitas dijadikan salah satu sasaran jangka
panjang perusahaan dalam langkah pelaksanaan strateginya.
Sedangkan konsep produktivitas menurut piagam OSLA tahun 1984 adalah (J.
Ravianto,1986:18) :
- Produktivitas adalah konsep universal, dimaksudkan untuk menyediakan semakin banyak barang dan jasa untuk semakin banyak orang dengan menggunakan sedikit sumber daya.
- Produktivitas berdasarkan atas pendekatan multidisiplin yang secara efektif merumuskan tujuan rencana pembangunan dan pelaksanaan cara -cara produktif dengan menggunakan sumber daya secara efektif dan efisien namun tetap menjaga kualitas.
- Produktivitas terpadu menggunakan keterampilan modal, teknologi manajemen, informasi, energi, dan sumber daya lainnya untuk mutu kehidupan yang mantap bagi manusia melalui konsep produktivitas secara menyeluruh.
- Produktivitas berbeda di masing-masing negara dengan kondisi, potensi, dan kekurangan serta harapan yang dimiliki oleh negara yang bersangkutan dalam jangka panjang dan pendek, namun masing-masing negara mempunyai kesamaan dalam pelaksanaan pendidikan dan komunikasi.
- Produktivitas lebih dari sekedar ilmu teknologi dan teknik manajemen akan tetapi juga mengandung filosofi dan sikap mendasar pada motivasi yang kuat untuk terus menerus berusaha mencapai mutu kehidupan yang baik.
Menurut Ravianto. J (2004:4) secara
umum produktivitas mengandung pengertian antara hasil yang dicapai dengan peran
serta tenaga kerja satuan waktu. Sumber daya manusia memegang peranan penting
dalam proses peningkatan produktivitas karena manusia bersifat dinamis. Alat
produksi dan kemajuan teknologi lebih bersifat statis yang hanya dapat digerakan
oleh manusia. Tingkat produktivitas yang tinggi merupakan harapan dari setiap
perusahaan. Dalam meningkatkan produktivitas kerja, banyak sekali hal-hal yang
mempengaruhi seperti, kenaikan upah atau gaji yang adil dan layak, suasana atau
lingkungan kerja yang menyenangkan, kesempatan berkarier, kesempatan untuk
maju, fasilitas yang mendukung, dan lain-lain.
Difinisi
atau Pengertian Kinerja ( produktivitas
kerja )
Kinerja adalah kemampuan seseorang untuk melakukan pekerjaannya sesuai
dengan perencanaan yang telah ditetapkan oleh manajemen. Kinerja
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya (mangkunegara, 2009:9). Konsep kinerja akhir-akhir ini
telah menjadi suatu terminologi atau konsep yang sering dipakai organisasi atau
individu, khususnya dalam kerangka mendorong keberhasilan organisasi atau SDM.
Kinerja SDM merupakan istilah yang berasal dari kata Job Performance atau
Actual Performance (prestasi kinerja atau prestasi yang sesungguhnya
dicapai oleh seseorang). Kinerja akan selalu menjadi isu aktual dalam
organisasi, karena apapun bentuk organisasinya kinerja merupakan pernyataan
kunci terhadap efektivitas atau keberhasilan suatu organisasi.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, dapat
diartikan bahwa kinerja merupakan tanggung jawab para pegawai dalam
melaksanakan tugasnya, yang disesuaikan dengan tugas dan fungsinya guna
menghasilkan output yang berkualitas baik dalam tataran organisasi
swasta maupun organisasi publik. Konsep kinerja disatu sisi ada yang lebih
terfokus pada konteks individual atau SDM, bahkan sampai pencampuran pemahaman
tentang konsep kinerja itu sendiri.
Ada tida (3) level kinerja, yaitu;
1. Kinerja
Organisasi; merupakan pencapaian hasil (out come) pada level atau
unit analisis organisasi. Kinerja pada level organisasi ini terkait pada
tujuan organisasi, rancangan organisasi dan manajemen organisasi.
2. Kinerja
proses; merupakan kinerja pada proses tahapan dalam menghasilkan produk atau
pelayanan. Kinerja pada level proses ini dipengaruhi oleh tujuan proses,
rancangan proses dan manajemen proses.
3. Kinerja
individu/pekerjaan; merupakan pencapaian atau aktivitas pada tingkat pegawai
atau pekerjaan. Kinerja pada level ini dipengaruhi oleh tujuan
pekerjaan, proses pekerjaan dan manajemen pekerjaan serta karakteristik
individu. (dalam Sudarmanto, 2009:7-8)”
Berdasarkan penjelasan teoritik di atas tentang
konsep kinerja, dapat diartikan bahwa konsep kinerja yang terbagi menjadi tiga level
tersebut berkaitan dengan aktivitas-aktivitas individu atau kelompok,
dengan sejumlah tujuan, proses dan manajemen yang telah disepakati bersama.
Meningkatkan produktivitas kinerja yang tinggi serta meningkatkan
profesionalisme dalam bekerja, akan selalu terkait dengan ukuran-ukuran atau
standar kinerja. Ukuran atau standar kinerja terkait dengan parameter-parameter
tertentu atau dimensi yang dijadikan dasar atau acuan oleh organisasi untuk
mengukur suatu kinerja. Produktivitas kinerja diharapkan pekerjaan akan
terlaksana secara efisien dan efektif, sehingga pada akhirnya sangat diperlukan
dalam pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan.
Produktivitas kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan
output dengan input yang dibutuhkan seorang tenaga kerja untuk menghasilkan produk.
Pengukuran produktivitas dilakukan dengan melihat jumlah output yang dihasilkan
oleh setiap pegawai selama sebulan. Seorang pegawai dapat
dikatakan produktiv apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih
banyak dibandingkan dengan pegawai lain dalam waktu yang sama ( J.
Ravianto, 1986 ).
Menurut Handari Nawawi dan Kartini
Handari, 1990:97-98). Menjelaskan secara konkrit konsep produktivitas kerja
sebagai berikut:
- Produktivitas kerja merupakan perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh dengan jumlah kerja yang dikeluarkan. Produktivitas kerja dikatakan tinggi jika hasil ynag diperoleh lebih besar dari pada sumber tenaga kerja yang dipergunakan dan sebaliknya.
- Produktivitas yang diukur dari daya guna (efisiensi penggunaan personal sebagai tenaga kerja). Produktivitas ini digambarkan dari ketepatan penggunaan metode atau cara kerja dan alat yang tersedia, sehingga volume dan beban kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia. Hasil yang diperoleh bersifat non material yang tidak dapat dinilai dengan uang, sehingga produktivitas hanya digambarkan melalui efisiensi personal dalam pelaksanaan tugas-tugas pokoknya.
Pengukuran
produktivitas kerja
sebagai sarana untuk menganalisa dan mendorong efisiensi produksi. Manfaat lain
adalah untuk menentukan target dan kegunaan, praktisnya sebagai standar dalam
pembayaran upah karyawan. Untuk mengukur suatu produktivitas dapat digunakan
dua jenis ukuran jam kerja manusia yakni jam – jam kerja yang harus dibayar dan
jam – jam kerja yang harus dipergunakan untuk bekerja.
Ada dua macam alat
pengukuran produktivitas, yaitu :
a. Physical productivity,
yaitu produktivitas secara kuantitatif seperti ukuran (size), panjang, berat,
banyaknya unit, waktu, dan biaya tenaga kerja.
b. Value productivity,
yaitu ukuran produktivitas dengan menggunakan nilai uang yang dinyatakan dalam
rupiah, yen, dollar dan seterusnya. (Ravianto, 1986:21).
Analisis
Produktivitass
Untuk mengetahui apakan seorang karyawan itu produktif atau tidak dapat
dilakukan dengan pengukuran produktivitas. Tanpa pengukuran, maka kita tidak akan
mungkin dapat mengatakan bahwa orang itu produktif sementara kita tidak mengukurnya,
maka kesimpulannya diambil dengan spekulasi, sehingga tidak ilmiah atau
kesimpulan tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan. Pengukuran menjadi
standar dalam pengambilan keputusan , jika hasil pengukuran ternyata produktivitas
kerja rendah, maka dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin tentunya akan
menelurkan berbagai faktor yang dapat meningkatkan produktivitas kerja
tersebut.
Menurut J. Raviyanto Putra dan kawan-kawan (1988), ukuran produktivitas
tenaga kerja menunjukkan efesiensi proses produksi yang ditinjau dari sudut
pandang salah satu produk saja, yaitu unsur manusianya. Selanjutnya J.
Raviyanto Putra dan kawan-kawan mengatakan banyak cara untuk meningkatkan
produktivitas di antaranya :
a.
Dengan meningkatkan keluaran dan mempertahankan
masukan.
b.
Meningkatkan keluaran dengan proposi yang lebih besar
dari pada pertambahan masukan.
c.
Meningkatkan keluaran dan menurunkan masukan.
d.
Mempertahankan keluaran dan menurukan masukan.
e.
Menurunkan keluaran dan menurunkan masukan dengan proporsionalitas
yang lebih besar.
Dengan memperbaiki produktivitas berarti menata kembali dan mengkombinasikan
faktor-faktor produktif sedemikian rupa sehingga menghasilkan performan yang
lebih tinggi. Selain hal-hal tersebut di atas, dalam usaha untuk meningkatkan
produktivitas karyawan suatu perusahaan akan mengadakan pelatihan.
Pelatihan-pelatihan tersebut dapat dilakukan dengan menyesuaikan dimana
karyawan tersebut ditempatkan. Pelatihan dapat dilakukan secara berkala baik
pelatihan yang diadakan secara internal maupun yang diadakan oleh pihak
eksternal.
Jika seorang karyawan mempunyai produktivitas yang tinggi, dan memberikan
keuntungan terhadap lajunya pertumbuhan suatu perusahaan maka dapat diberikan
penghargaan sebagai motivasi. Penghargaan tersebut dapat berupa pemberian bonus
atau kompensasi.
Variable yang Mempengaruhi
Produktivitas
Masalah rendahnya produktivitas kinerja menjadi
fokus perhatian pada hampir semua institusi di Indonesia. Hal ini dapat dilihat
dari berbagai aspek faktual yang muncul, misalnya; terjadinya pemborosan sumber
daya (inefisiensi) dan ketidak tercapaian target, baik secara kelompok maupun
individual.
Beberapa variable atau factor yang
dapat mempengaruhi produktivitas atau produktivitas kerja pada suatu organisasi
maupun perusahaan terdapat berbagai aspek yang dapat berpengaruh, aspek ini
dapat di lihat dari 3 sisi yaitu, karyawan, perusahaan dan juga lingkungan
luar.
a.
"Variabel yang berasal dari karyawan."
Sebagai salah
satu faktor produksi atau sumber ekonomi, karyawan atau tenaga kerja merupakan
variabel yang sangat menentukan tinggi rendahnya produktivitas. Karyawan yang
berkualitas akan meningkatkan produksi perusahaan. Kualitas karyawan yang dapat
mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu
yang bersifat fisikal, psikologikan, dan keterampilan.
1) Bersifat
fisikal.
Variabel karyawan yang bersikap fisikal
yaitu: gizi dan kesehatan. Gizi untuk menjaga kelangsungan hidupnya, manusia
membutuhkan makanan yang mengandung gizi sesuai kebutuhannya. Kesehatan merupakan
faktor penting dalam meningkatkan produktivitas karyawan. Konsep kesehatan
disini mencakup kesehatan fisik maupun kesehatan mental.
2)
Bersifat psikologikal.
Produktivitas juga dipengaruhi oleh
variabel psikologikal yang berasal dari karyawan adalah motivasi dan sikap.
Motivasi dapat bersifat internal maupun eksternal. Motivasi internal merupakan
dorongan yang muncul dari dalam diri seseorang untuk berperilaku tertentu.
Sedang motivasi eksternal merupakan proses untuk mempengaruhi seseorang untuk
melakukan sesuatu seperti yang kita inginkan. Secara umum sikap dibedakan menjadi
dua, yaitu sikap positif dan sikap negatif. Sikap seseorang akan tercermin dari
prestasi kerjanya.
3) Keterampilan
Variabel.
Keterampilan karyawan merupakan
akumulasi dari bakat, pendidikan, dan latihan dari karyawan yang bersangkutan.
Dengan demikian untuk melihat seberapa tinggi keterampilan seorang karyawan,
dianalisis dari ketiga faktor tersebut.
b. "Variabel
yang berasal dari perusahaan."
Beberapa
variabel penyebab tinggi rendahnya produktivitas yang berasal dari perusahaan
antara lain: lingkungan kerja, kemampuan manajemen, kebijakan perusahaan dalam
produktivitas.
c. "Variabel
yang berasal dari lingkungan eksternal."
Selain variabel yang
secara langsung mempengaruhu produktivitas, yakni karyawan maupun perusahaan,
ternyata lingkungan secara tidak langsung mempengaruhi produktivitas. Yang
termasuk dalam lingkungan eksternal ini adalah teknoligi, kebijakan pemerintah
(investasi, perizinan), dan kondisi ekonomi.
Produktivitas juga dapat dipengaruhi Beban keja,
Kapasitas kerja, dan juga Beban tambahan akibat lingkungan kerja.
Beban kerja.
Berhubungan
langsung dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga
kerja sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu
diperhatikan.
Kapasitas
kerja. Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya
pada waktu tertentu. Kapasitas kerja sangat bergantung pada jenis kelamin,
pendidikan, ketrampilan, usia dan status gizi.
Beban
tambahan akibat lingkungan kerja. Lingkungan kerja yang buruk akan
memberikan dampak yang buruk juga berupa penurunan produktivitas kerja,
antara lain:
- Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dangetaran.
- Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu, partikel.
- Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus, dan parasit.
- Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.
- Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik serta pekerjaan yang monoton.
Anoraga (1998:56) berpendapat bahwa tinggi rendahnya
produktivitas kerja dipengaruhi oleh beberapa factor, yaitu : pekerjaan yang
menarik, upah yang baik, keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan, penghayatan
atas maksud dan makna pekerjaan, lingkungan atau suasana kerja yang baik ,
promosi dan pengembangan diri mereka sejalan dengan perkembangan
organisasi/perusahaan, merasa terlibat dengan kegiatan-kegiatan organisasi,
pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi, kesetiaan
pimpinan/kepala perusahaan pada diri karyawan/karyawan dan disiplin kerja yang
keras.
Di samping itu ada 4 (empat) bidang pekerjaan yang mempunyai
dampak besar terhadap produktivitas,yaitu: (1) investasi mesin untuk
menggantikan manusia, (2) upaya yang diarahkan pada penentuan dan penerapan
metode kerja yang paling cocok, (3) usaha untuk menghilangkan praktek yang
tidak produktif, yang biasanya menghambat peningkatan produktivitas, (4) metode
personalia yang dapat digunakan oleh manejemen untuk memanfaatkan keterampilan
yang dimiliki pekerja (Petra, 2002: 5)
Strategi atau Upaya Meningkatkan
Produktivitas
Kunci bagi produtivitas ketatausahaan adalah
menyusun pengawasan yang baik agar terdapat keseimbangan alokasi pekerjaan.
Kesulitan yang ada dalam peningkatan produktivitas tata usaha dan jasa (swasta
dan pemerintah) adalah cara memacu pekerja kantor untuk lebih efektif dalam
malakukan pekerjaan. Alasan pokoknya adalah kurangnya norma dan standar yang
disusun baik atas jenis-jenis pelaksanaan kinerja, tata usaha yang
berbeda-beda.
Peningkatan produktivitas kerja dapat dilihat
sebagai masalah keperilakuan, tetapi juga dapat mengandung aspek-aspek teknis.
Oleh karena itu untuk mengatasi hal demikian perlu pemahaman yang tepat tentang
faktor-faktor penentu keberhasilan meningkatkan produktivitas kinerja, sebagian
diantaranya berupa etos kerja yang harus dipegang teguh oleh semua karyawan
dalam organisasi.
Etos kerja merupakan norma atau aturan yang sifatnya
harus dilakukan oleh para pekerja atau karyawan dalam meningkatkan kualitas kerja,
guna menghasilkan keluaran (output) yang maksimal dan dapat dirasakan
oleh berbagai pihak, serta dapat meningkatkan prestasi kerja yang baik. Upaya
peningkatan produktivitas kinerja harusnya tidak dipandang hanya sebagai hal
yang bersifat teknis. Keseluruhan upaya meningkatkan produktivitas kerja mutlak
perlu didasarkan pada berbagai pertanyaan yang disepakati benar tanpa
pembuktian (postulat) sebagai landasan dan titik tolak berpikir dan
bertindak.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan produktivitas
kinerja yang dikemukakan oleh Siagian dalam bukunya sebagai berikut:
“Perbaikan Terus-menerus”
Upaya meningkatkan produktivitas kinerja, salah satu
implikasinya ialah bahwa seluruh komponen organisasi harus melakukan perbaikan
secara terus-menerus. Pandangan ini bukan hanya merupakan salah satu etos kerja
yang penting sebagai bagian dari filsafat manajemen mutakhir. Pentingnya etos
kerja ini terlihat dengan lebih jelas apalagi diingat bahwa suatu organisasi
selalu dihadapkan kepada tuntutan yang terus-menerus berubah, baik secara
internal maupun eksternal. Tambahan pula ada ungkapan yang mengatakan bahwa
satu-satunya hal yang konstan di dunia ini adalah perubahan. Secara internal,
perubahan yang terjadi adalah perubahan strategi organisasi, perubahan
pemanfaatan teknologi, perubahan kebijaksanaan, dan perubahan dalam
praktik-praktik SDM sebagai akibat diterbitkan perundang-undangan baru oleh
pemerintah dan berbagai faktor lain yang tertuang dalam keputusan manajemen.
Sedangkan perubahan eksternal adalah perubahan yang terjadi dengan cepat karena
dampak tindakan suatu organisasi yang dominan peranannya di masyarakat.
“Peningkatan Mutu Hasil Pekerjaan”
Berkaitan erat dengan upaya perbaikan terus-menerus
adalah peningkatan mutu hasil pekerjaan oleh semua orang dan segala komponen
organisasi. Padahal, mutu tidak hanya berkaitan dengan produk yang dihasilkan
dan dipasarkan, baik berupa barang maupun jasa, akan tetapi menyangkut segala
jenis kegiatan dimana organisasi terlibat. Berarti mutu menyangkut semua jenis
kegiatan yang diselenggarakan oleh semua satuan kerja, baik pelaksana tugas
pokok maupun pelaksana tugas penunjang, dalam organisasi. Peningkatan mutu
tersebut tidak hanya penting secara internal, akan tetapi juga secara eksternal
karena akan tercermin dalam interaksi organisasi dengan lingkungannya yang pada
gilirannya turut membentuk citra organisasi dimata berbagai pihak disemua
organisasi.
“Pemberdayaan Sumber Daya Manusia
(SDM)”
SDM merupakan unsur yang paling strategik dalam
organisasi. Karena itu memberdayakan SDM merupakan etos kerja yang sangat
mendasar yang harus dipegang teguh oleh semua eselon organisasi dalam
hierarki organisasi. Memberdayakan SDM mengandung berbagai kiat seperti
mengakui harkat dan martabat manusia, perkayaan mutu kekaryaan dan penerapan
gaya manajemen yang partisipatif melalui proses demokratisasi dalam kehidupan
organisasi
(Siagian,
2009:10-13)”.
Berdasarkan definisi teoritik di atas, dapat
diartikan bahwa upaya-upaya yang dapat meningkatkan produktivitas kinerja
diantaranya adalah pertama, perbaikan terus-menerus dimana hal tersebut
implikasinya secara menyeluruh di dalam komponen organisasi dapat memicu sebuah
perubahan. Kedua, peningkatan mutu hasil pekerjaan. Ketiga, pemberdayaan
SDM. Ketiga upaya tersebut penting untuk dilakukan dalam meningkatkan etos
kerja yang akan meningkatkan mutu
dari
hasil pekerjaan serta pemberdayaan SDM salah satu upaya yang penting
dalam
peningkatan produktivitas kerja yang tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Ravianto,
J. 1985. Produktivitas dan Manajemen. SIUP : Jakarta.
Riyanto, J. 1986. Produktivitas dan Tenaga Kerja. SIUP :
Jakarta.
http://skripsi-manajemen.blogspot.com/2011/02/pengertian-definisi-produktivitas-kerja.html
diakses 18 Maret 2014
http://jagomakalah.blogspot.com/2014/02/makalah-kepemimpinan-terhadap.html
diakses 18 Maret 2014
http://pengertian-skripsi.blogspot.com/2011/02/pengertian-produktivitas-kerja.html
diakses 18 Maret 2014
http://onahe.wordpress.com/2010/10/19/produktivitas-dan-kinerja/ diakses 18 Maret 2014
P. Siagian, Prof. Dr. Sondang . 2007. MPA : Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Bumi AksaraRivai,
Cahyani, Ati . 2005. Startegi dan Kebijakan Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : PT. Indeks.
Veithzal, 2005, Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Prusahaan, Jakarta : PT Raja grafindo Persada.