Pendahuluan
Untuk
dapat memprediksi dan menetapkan komposisi kualifikasi dan jumlah karyawan yang
dibutuhkan, maka diperlukan metoda penghitungan beban kerja (workload analysis)
yang tepat untuk dapat menghasilkan kesimpulan formasi job profile perusahaan
yang menggambarkan komposisi pekerjaan, komposisi kualifikasi karyawan, dan
sekaligus jumlah karyawan yang diperlukan oleh perusahaan tersebut. Adapun tujuan dari analisa beban kerja dan
kekuatan kerja sdm adalah untuk mengetahui dan/atau menghitung (memperkirakan)
tingkat optimalitas dari penggunaan jumlah dan komposisi tenaga kerja terhadap
beban kerja di setiap fungsi kerja atau unit organisasi.
Untuk mencapai kinerja Sumber Daya Manusia (SDM)
yang optimal membutuhkan setidaknya tiga pilar utama. Pertama, teknologi
yang mendukung pelaksanaan kerja. Kedua, budaya kerja yang mengarah pada
budaya professional. Ketiga, sistem kerja yang dapat mendorong
terciptanya semangat kerja. Membangun tiga hal tersebut bukanlah hal yang mudah
karena membutuhkan dana, komitmen, semangat dan konsistensi. Salah satu titik
kritis dan strategis dalam peningkatan kinerja SDM adalah workload analysis atau
analisa beban kerja.
Dari sinilah kemudian berkembang berbagai teori dan
turunannya seperti Full Time Equivalent Employment dan masih banyak
lagi. Karena posisi strategisnya, beban kerja mampu mempengaruhi KPI dan strategic
iniciative yang pada akhirnya mempengaruhi hasil dari individual/group
performance. HR Planning atau man power planning baik
jangka pendek maupun jangka panjang juga tidak akan lepas dari analisis beban
kerja. Analisisnya cukup sederhana, pembagian beban kerja pada setiap individu/group
akan mempengaruhi man power planning sehingga berpengaruh pula dalam
recruitment baik internal maupun eksternal dan akhirnya pada corporate
planning. Workload analysis cukup mendapat perhatian yang serius
karena pada prinsipnya bertujuan untuk
membuat proses organisasi lebih efektif dan efisien.
Pembahasan
Beban kerja dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu : Beban kerja standar adalah perhitungan waktu
kerja secara efektif kali volume/frekuensi yang ditargetkan dalam satu periode
dan Beban kerja real adalah beban kerja
standar yaitu perhitungan waktu kerja secara efektif kali volume/frekuensi yang
ditargetkan dalam satu periode. Adapun manfaat dari analisis beban kerja, yang
dapat digunakan organisasi antara lain :
1.
Untuk menghitung load pekerjaan seseorang dalam satu periode waktu tertentu.
2.
Untuk menghitung kebutuhan jumlah tenaga kerja dalam suatu proses atau departemen.
3.
Untuk proses pengajuan penambahan/pengurangan tenaga kerja.
4.
Sebagai sarana pendukung untuk pengajuan kenaikan gaji/intensif.
5.
Sebagai alat evaluasi aplikasi teknologi yang dapat mengurangi beban kerja.
Berbicara tentang beban kerja, tentu tidak terlepas
dengan standar kerja, karena Standar kerja (labor standars) adalah
jumlah waktu yang harus digunakan untuk melaksankan kegiatan tertentu dibawah
kondisi kerja normal. Dengan pengukuran kerja maka organisasi dapat melakukan
evaluasi pelaksanaan kerja karyawan, merencanakan kebutuhan tenaga kerja,
menentukan tingkat kapasitas, menentukan harga atau biaya suatu produk,
memperbandingkan metoda-metoda kerja, memudahkan scheduling operasi-operasi
bahkan dapat dijadikan dasar untuk menentapkan upah insentif. Beberapa metode
dapat digunakan untuk menentukan standar kerja, namun yang paling populer dan
mudah diterapkan adalah metode studi waktu (time study), dengan
menggunakan studi waktu, seorang analis mengambil suatu sampel kecil dari satu
kegiatan karyawan dan menggunakannya untuk menentukan suatu standar bagi organisasi keseluruhan.
Untuk menyelidiki pekerjaan dalam sehari secara
benar, F.W. Taylor menentukan waktu suatu jabatan dengan mempergunakan
stopwatch, ia berpendapat bahwa penyelidikan waktu secara menyeluruh adalah
tidak memuaskan dan bahwa adalah lebih baik menentukan waktu bagian-bagian dari
masing-masing jabatan. Ini merupakan permulaan dari suatu teknik yang banyak
disempurnakan sejak jaman F.W. Taylor yang disebut dengan Penyelidikan Waktu
menurut Unsur-Unsurnya (Elemental Time Study). Jabatan diuraikan kedalam
unsur-unsurnya yang pokok atau kedalam gerak-geraknya yang penting. yang
diperlukan untuk melaksanakan jabatan tersebut. Penguraian demikian menunjukkan
urutan atau rangkaian dari pelaksanaan-pelaksanaan yang berulang. yang terjadi
pada tiap jabatan, yang disebut dengan lingkaran-lingkaran (Cycles).
Perhitungan gabungan unsur-unsur dalam suatu lingkaran dan pengukuran waktu
lingkaran yang teliti akan menghasilkan waktu produksi yang diperlukan.
Waktu yang dipergunakan dalam kegiatan-kegiatan yang
tidak langsung berhubungan dengan produksi disebut Waktu Bukan Lingkaran
(Noncyclical Time). Penyelidikan waktu secara keseluruhan akan mengabaikan
pentingnya Noncycfical Time ini dan membolehkan penghapusan Noncyclical Time
yang tidak penting. Oleh karena itu hanya waktu minimum yang penting yang
dibolehkan untuk ditambahkan pada pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan tersebut,
seperti meminyaki dan menunggu bahan-bahan. Waktu-waktu Noncyclical Time
disebut Allowances (waktu-waktu yang diperbolehkan untuk ditambahkan) dihitung
sebagai prosentase dari waktu lingkaran (Cycle Time). Lagi pula Allowances
diperlukan untuk Kelelahan dan Kebutuhan Pribadi. Jumlah keseluruhan Waktu
Lingkaran dan Allowances menunjukkan seluruh waktu per kesatuan yang diperlukan
untuk produksi. Melalui pengukuran waktu secara teliti yang diperlukan untuk
mengerjakan suatu tugas, Taylor mengharapkan dapat mengurangi biaya dan
mengakhiri pertentangan-perlentangan mengenai beban kerja yang sebenarnya.
Apabila waktu suatu jabatan telah ditentukan. maka
Taylor beranggapan bahwa pekerjaan sehari yang benar (penuh) telah ditentukan
secara ilmiah. Penyelidikan waktu dipergunakan untuk menghapuskan semua perdebatan
tentang standar pelaksanaan pekerjaan. Metode ilmiah ini gunanya untuk
memberikan standar yang relatif tidak dapat disangkal. Adapun prosedur dalam
penggunaan studi waktu adalah :
1.
Menentukan jumlah siklus
Z2 [n’
x2 - ( x)2 ]
N = ------------------------------
H2 (
x )2
Dimana
:
ῃ’
= besarnya sampel pendahuluan
x
= waktu-waktu yang dicatat stopwatch
h
= setengah interval ketelitian
z
= deviasi standar normal untuk tingkat
kepercayaan yang diinginkan
2.
Perhitungan waktu siklus rata-rata (CT) / waktu terpilih
∑ waktu
CT = -------------
ῃ siklus
3.
Perhitungan waktu normal
Untuk membuat waktu terpilih dapat diterapkan untuk
semua karyawan, suatu ukuran kecepatan/rating factor (RF) harus
dimasukkan untuk menormalkan pekerjaan. Aplikasi RF tertentu pada waktu
terpilih disebut waktu normal. Bila karyawan yang diteliti bekerja lebih cepat
daripada karyawan rata-rata, maka bentuk persamaannya adalah :
NT = CT (RF)
Bila karyawan diteliti untuk suatu periode waktu dan
memproduksi sejumlah unit produk selama waktu itu, maka bentuk persamaan normal
menjadi
:
Waktu bekerja
NT =
----------------------------------- X RF
Jumlah unit yang diproduksi
4.
Penghitungan waktu standar
Diperoleh melalui penambahan waktu normal dengan
cadangan-cadangan untuk kebutuhan pribadi
ST = NT ( 1 + waktu cadangan
)
Dari waktu standar yang telah ditetapkan organisasi
maka dapat menjadi dasar untuk menghitung beban kerja karyawan baik secara
individu maupun divisi/kelompok.
Sedangkan alat bantu yang dapat digunakan untuk
pengukuran beban kerja
antara
lain.
a. Bagan Proses Aliran (Mapping Process Chart)
Bagan
ini menggambarkan urutan operasi, baik gerakan pekerja maupun aliran material.
Bagan ini bermanfaat dalam memperlihatkan bagian proses yang tidak produktif,
seperti penundaan (delay), penyimpanan sementara, dan untuk mengetahui panjang pendeknya jarak
yang ditempuh. Analis harus menguji apakah penundaan dapat dihindarkan, apakah
penyimpanan sementara memang perlu, atau seberapa sering terjadi pemindahan/transportasi
itu bisa diminimalkan. Pengurangan atau peniadaan waktu tunda, penyimpanan
sementara, maupun tranportasi akan mengurangi waktu proses total.
b. Bagan Pekerja-mesin (Worker-machine Chart)
Bagan
ini menggambarkan suatu siklus kerja dimana pekerjaan dan mesin sibuk atau
menganggur. Analis dapat dengan mudah mengetahui kapan pekerja dan mesin
bekerja secara bersamaan atau bekerja secara sendiri-sendiri (independen).
Salah satu dari kegunaan dari bagan ini untuk mengetahui berapa mesin/peralatan
yang dapat ditangani oleh seorang pekerja, atau sebaliknya. Bagan ini sering
disebut juga dengan bagan multiaktivitas.
c. Bagan Proses-kelompok (Gang-process Chart)
Bagan
proses kelompok merupakan jenis lain dari bagan multiaktivitas, yang
menggambarkan kesibukan beberapa pekerja dan mesin yang bekerja bersama-sama
dalam suatu kelompok. Bagan ini bermanfaat untuk mengkoordinasikan kegiatan
sekelompok pekerja dan untuk mengetahui tingkat kesibukan dari masing-masing
pekerja. Dengan menggunakan bagan proses-kelompok dapat diketahui pekerja mana
yang memiliki waktu kosong cukup besar, yang jika mungkin, dilakukan pengaturan
pekerja yang banyak memiliki waktu kosong membantu pekerja yang waktunya padat,
sehingga secara keseluruhan waktu proses bisa diminimalkan, atau diperoleh
keseimbangan beban kerja yang lebih merata diantara para pekerja dalam kelompok
tersebut, sehingga secara formula, menghitung beban kerja adalah :
Beban
Kerja = Σ Waktu Pengerjaan X Frekuensi ( Volume ) dimana :
Σ waktu mengerjakan : lama waktu yang digunakan untuk mengerjakan
Frekuensi/volume : jumlah siklus pekerjaan yang harus dilakukan
Sedangkan
untuk menentukan Jumlah Kebutuhan Pegawai di Unit adalah
Total
Beban Kerja Unit dalam 1 tahun
Jam Kerja efektif Per
Orang Per Tahun
dimana
:
Total Beban Kerja Unit dalam 1 tahun = Penjumlahan beban kerja individu di Unit
Jam Kerja Efektif dalam 1 tahun:
Jam
kerja efektif 1 hari = 7 jam
Jam
kerja efektif 1 tahun = 235 hari
Jadi
jam kerja efektif = 7 X 235
hari
=
1645 jam
Analisa beban kerja adalah proses untuk menetapkan
jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan suatu
pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan kata lain analisis beban kerja
bertujuan untuk menentukan berapa jumlah personalia dan berapa jumlah tanggung
jawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang petugas, sedangkan
standar kerja (labor standars) adalah jumlah waktu yang harus digunakan
untuk melaksanakan kegiatan tertentu dibawah kondisi kerja normal. Dengan pengukuran
kerja maka organisasi dapat melakukan evaluasi pelaksanaan kerja karyawan,
merencanakan kebutuhan tenaga kerja, menentukan tingkat kapasitas, menentukan
harga atau biaya suatu produk, memperbandingkan metoda-metoda kerja, memudahkan
scheduling operasi-operasi bahkan dapat dijadikan dasar untuk menetapkan
upah insentif.
Bagi organisasi tentu mempunyai tujuan dalam efisiensi
dan efektifitas baik SDA maupun SDM, keterkaitan dengan pengelolaan SDM yang
optimal maka perlu kiranya organisasi mengaplikasikan work analysis atau
analisis beban kerja, karena dengan mengetahui beban kerja baik individu dan
atau divisi maka diharapkan organisasi dapat melakukan proses perencanaan SDM
mulai dari prinsip dan konsep perencanaan, strategi, metode dan pendekatan,
mampu memahami Business Mapping process dalam kaitan dengan analisa
beban kerja dan mampu mengetahui kebutuhan organisasi dan atau departemen dalam
merencanakan kebutuhan SDM-nya, sehingga organisasi dapat memutuskan apakah
perlu menambah atau mengurangi SDM agar produktivitas organisasi tetap terjaga.
ANALISIS
TENAGA KERJA (WORKFORCE ANALYSIS)
Merupakan penilaian terhadap tenaga
kerja yang ada dalam suatu departemen dan yang pindah ke dalam, melalui atau
keluar dari departemen tersebut. Analisis ini dapat mencakup :
1. Jumlah Tenaga Kerja
Bertolak dari Tujuan SDM yang disusun berdasarkan tugas-tugas di
dalam Deskripsi Pekerjaan, termasuk wewenang dan tanggung jawabnya, dapat
ditetapkan Volume dan Beban Kerja setiap unit kerja. Kemudian dapat dihitung
jumlah SDM yang diperlukan.
2.
Komposisi Tenaga Kerja
Analisis Komposisi ini, pertama kegiatannya untuk mengetahui
apakah semua posisi/jabatan telah terisi atau belum. Dengan demikian akan dapat
diketahui jika ternyata masih terdapat posisi/jabatan yang kosong dari sudut
jumlahnya. Kegiatannya yang kedua adalah menginventarisasikan adanya promosi,
pemindahan, pensiun atau keluar/dikeluarkan.
3. Kualitas
Tenaga Kerja
Kegiatannya dilakukan dalam bentuk “inventarisasi kemampuan” para
pekerja, dihubungkan dengan tugas-tugas yang sedang atau akan diembannya.
Kegiatan inventarisasi kemampuan dalam rangka Analisis Tenaga Kerja, harus
mampu mengungkapkan informasi-informasi sebagai berikut :
a. Informasi mengenai
posisi/jabatan yang terakhir setiap tenaga kerja.
b. Posisi/jabatan
yang terdapat dalam struktur organisasi/perusahaan, dan yang
ditempati
sebelum posisi/jabatan yang terakhir oleh tenaga kerja yang bersangkutan.
c. Jenis dan tingkat
pendidikan, untuk yang Sarjana lengkap dengan jurusan atau
program
studi atau disiplin ilmunya. Demikian pula jika memiliki sertifikat atau
lisensi kecakapan tertentu.
d. Pengalaman kerja
di perusahaan dan ditempat lain sebelumnya, yang penting
dihubungkan dengan bisnis perusahaan.
e. Keterampilan/penguasaan
bahasa asing dan pengalaman internasional yang
relevan.
f. Pelatihan dan
Program Pengembangan yang pernah diikuti.
g. Tanggung Jawab
Kepemimpinan di perusahaan/industri dan di masyarakat.
h. Data tentang
Penilaian Karya (kinerja) yang lalu dan terakhir.
i. Disiplin dalam
bekerja.
j. Penghargaan yang
pernah diterima.
Job Evaluation
Job
evaluation adalah proses menganalisis dan menilai suatu jabatan secara
sistematikuntuk mengetahui nilai relatif bobot berbagai jabatan dalam suatu
organisasi. Hasil akhir dari proses job evaluation adalah job weight (bobot
jabatan/pekerjaan).
Tujuan Job Evaluation :
1.
Memperjelas dalam penentuan hubungan
internal antar jabatan
2.
Perencanaan sumber daya manusia
3.
Seleksi karyawan
4.
Pelatihan dan pengembangan SDM
5. Menghasilkan konsistensi sistem kompensasi internal dan
eksternal dan pedoman
remunerasi yang adil dan tepat
6. Dasar yang adil untuk promosi, mutasi dan demosi
7. Peninjauan dan restrukturisasi organisasi
Faktor utama dalam melakukan job evaluation adalah
menentukan "factor compansable", dimana berdasarkan penentuan
faktor compansable tersebut dapat dilakukan penilaian secara relatif satu
jabatan/pekerjaan dengan jabatan/pekerjaan yang lain). Dengan mengetahui bobot
jabatan/pekerjaan maka dengan mudah pihak manajemen akan mempunyai tolok ukur
baku untuk menetapkan imbal jasa atas suatu jabatan/pekerjaan yang secara
relatif lebih tinggi dibandingkan pekerjaan yang lainnya. Jika job evaluation
telah selesai dilaksanakan untuk semua jabatan/pekerjaan maka jabatan-jabatan
tesebut diurutkan mulai yang tertinggi sampai yang terendah (job grading).
Secara garis besar metode dalam melakukan job evaluation
dapat diklasifikasikan menjadi 2 bagian yaitu metode kualitatif (untuk
organisasi berukuran kecil dan simple) dan metode kuantitatif (untuk organisasi
berukuran besar dan komplek). Setiap metode memiliki kelebihan dan kelemahan
sehingga perusahaan dapat memilih metode yang sesuai dengan kondisinya.
Metode Kualitatif
Metode
Kualitatif
1)
Berdasar Stuktur Organisasi/Hirarki
Teknik yang paling sederhana untuk menetapkan
Job Grading atas dasar value dari masing-masing job adalah dengan berdasarkan
Hirarki atau Stuktur Organisasi dalam perusahaan. Sebagai contoh adalah apabila
Presiden Direktur merupakan jabatan yang paling tiinggi dalam perusahaan, maka
Jabatan Pres Dir digunakan sebagai peringkat tertinggi.
Asumsi dalam penentuan bobot atau
nilai jabatan dengan metode ini adalah posisi sebuah jabatan dalam struktur
organisasi secara otomatis menentukan nilai (value) dari sebuah jabatan.
2)
Metode Forced Ranking
Metode Forced Ranking dikenal juga dengan metode
konsensus karena grade atau peringkat jabatan dalam organisasi dibuat
berdasarkan konsesus.
Langkah langkah dalam membuat metode ini adalah sebagai berikut :
a) Manajemen
membuat team kecil yang diketuai top mamajemen dengan anggota para senior
manager dan difasilitasi oleh Manager SDM;
b)
Bagian SDM akan menyiapkan daftar jabatan yang berisi seluruh jenis jabatan
yang ada dalam organisasi, ditambah dengan
keterangan singkat tentang aktifitas utama dari setiap jabatan atau juga dapat
ditambahkan keterangan tentang jumlah pemegang jabatan; Daftar jabatan tersebut
bersifat acak, artinya urutan dalam daftar tidak menunjukan grade atau
peringkat jabatan;
c)
Team kecil yang sudah dibuat menyepakati berapa jumlah grade atau
peringkat jabatan dalam
organisasi;
d) Team kecil berunding untuk
menentukan jabatan-jabatan mana saja yang
masuk dalam setiap grade atau peringkat jabatan yang
sudah ditentukan sebelumnya;
3)
Metode Job Clasification
Metode Job Clasification merupakan perbaikan dari
metode metode Konsesus. Disebut perbaikkan atau lebih baik karena dalam metode
Job Clasification sudah diberikan paparan pada jabatan (kriteria) yang akan
diperingkatkan. Prosedur-nya secara singkat sebagai berikut :
a)
Dibentuk team kecil sebagaimana metode forced ranking;
b)
Bagian SDM akan memberikan daftar jabatan. Dalam daftar jabatan
tersebut dilengkapi paparan yang berifat narasi pada
setiap jabatan yang berisi diantaranya tentang tugas-tugas jabatan, tingkat
kesulitan, maupun kualifikasi dari pemegang jabatan;
c)
Team akan membuat peringkat/grade jabatan;
d) Team
akan memasukkan jabatan-jabatan dalam daftar jabatan pada
setiap peringkat/grade yang
sesuai.
4)
Factor Comparison
Langkah langkah-nya sebagai berikut :
a)
Sebagaimana metode terdahulu, tetap dibuat team penentu grading;
b)
Ditentukan faktor-faktor yang akan menjadi penentu nilai/value dari
semua jabatan. Contoh faktor-faktor tersebut
misalnya : Resiko Pekrjaan, Pendidikan, Pengalaman, Tanggung Jawab.
c)
Tentukan Jumlah Kelas Jabatan (Job Grade). Disusun peringkat untuk
setiap faktor, misal dari 1
(terendah) sampai 9 (tertinggi)
d)
Team memberikan Nilai pada setiap jabatan untuk setiap faktor yang
sudah ditentukan.
e)
Kemudian pada setiap jabatan dijumlahkan angka yang diperoleh dari
semua faktor
f)
Masukan Jabatan-jabatan tersebut pada masing-masing kelas/grade
sesuai dengan jumlah angka/point
yang diperoleh.
Metode
Kuantitatif
Metode yang digunakan dalam Job
Evaluation berikut merupakan Metode Analitis atau Kuantitatif, yang sering
disebut dengan Point Ratings/Factors Assesment, dan untuk selanjutnya akan saya
sebut dengan Point System (PS). Metode PS sering digunakan oleh perusahaan
perusahaan yang relatif maju management-nya karena mengakomodir kebutuhan
objectivitas dalam penyusunan kebijakan yang terkait dengan compensation atau
remuneration policy. Dikatakan mengakomodir kebutuhan, karena system ini mampu
memberikan value/nilai pada setiap jabatan/pekerjaan dalam organisasi dengan
lebih obyektif, sesuai dengan beban setiap pekerjaan masing-masing, sehingga
mengurangi perdebatan dalam penyusunan kebijakan tentang compensation.
Metode Point System ini berkembang
pesat bahkan beberapa lembaga konsultan internasional seperti Hay, Mercer,
Bipers, CRG telah mem-patentkan metode yang mereka kembangkan
masing-masing dari Point System ini.
Berikut ini akan saya paparkan
beberapa langkah dalam mengimplementasikan metode Point System ini, dengan
harapan akan memudahkan dalam mempelajari dan mengimplementasikan berbagai
metode job evaluation yang berasal dari pengembangan Point System :
1)
Membentuk Team Penilai Jabatan
Team iini dibentuk oleh dewan direksi dan melaporkan hasil kerjanya pada
dewan direksi. Sebaiknya dalam pemilihan anggota team, jumlahnya dibuat ganjil,
agar apabila tidak ada kata sepakat dalam perundingan, maka dapat diputuskan
lewat voting. Seluruh anggota team harus diberikan pemahaman tentang Job
Evaluation, termasuk salah satu tugas pokok-nya adalah dalam hal memilih
compensable factors.
2) Pemilihan Compensable Factors
Langkah kedua ini sangat penting, yaitu memilih dan menyetujui Compensable
Factors. Compensable Factors (CF'’s) adalah faktor faktor yang nantinya akan
mempengaruhi pemberian kompensasi. Mengapa bisa begitu, karena dari faktor
faktor yang dipilih tersebut, maka value/nilai setiap jabatan akan didapatkan
dan nantinya akan diperbandingkan dengan jabatan-jabatan yang lain dalam
organisasi. Beberapa CF's yang sering digunakan diantaranya adalah :
a) Pengetahuan dan
Ketrampilan yang dipersyaratkan;
b) Accountabilities,
baik bersifat financial, material, jenis jabatan yang menjadi subordinate,
dll.
c) Tingkat Kompleksitas Pekerjaan;
d) Beban Fisik yang di-emban;
e) Bahaya yang dihadapi pada
lingkungan kerja.
3) Membuat Definisi dari Setiap Faktor yang
dipilih
Definisi dari setiap CF's harus dibuat dengan bahasa yang sederhana
dan mudah dipahami sehingga meminimalisasi kesalah pahaman dari para
anggota team. Definisi yang sudah dibuat dan disetujui menjadi acuan bagi
seluruh anggota team.
4) Menyusun Tingkatan
atau Level pada Setiap CF's serta memberikan Definisi dan Point pada
Tiap Level
a) Langkah selanjutnya
adalah membuat tingkatan atau level pada setiap faktor
sekaligus memberikan definisi serta point atau skor
pada setiap levelnya. Contoh sederhananya adalah sebagai berikut :
Faktor : TINGKAT PENDIDIKAN FORMAL Pendidikan Formal
SLTA, mampu menggunakan nalar serta melakukan perhitungan matematika serta
memecahkan masalah secara sederhana (10 point)
b) Diploma
3, mampu menemukan masalah secara tekhnis dengan baik, mampu
secara mandiri menyelesaikan permasalahan tekhnis,
dan mampu bekerja dalam team untuk menganalisis permasalahan serta ikut serta
dalam penyelesaian masalah (point 20)
c) Pendidikan
Formal Strata 1, mampu memecahkan masalah dengan lebih kompleks, mampu
menguasai emosi dengan baik serta mampu membuat keputusan untuk hal-hal yang
sudah ditentukan dan memahami SOP dengan baik (35 point)
d) Pendidikan
Formal Strata 2, mampu menganalisis sebab-sebab timbulnya
masalah serta mampu membuat action plan untuk
menyelesaikan masalah, mampu membuat kebijakan sesuai dengan peran yang
dikendaki serta mampu menyusun sebuah standard kerja secara mandiri
(point 50)
e) Setelah itu, akan
diberikan bobot pada masing-masing faktor. Bobot masing-
masing faktor akan berbeda berdasarkan derajat
kepentingan (degree of significance) dari setiap faktor bagi setiap jabatan
dalam organisasi. Total bobot harus-lah 100%.
5)
Melaksanakan Analisis Jabatan
Analisis Jabatan dilakukan dengan lebih terarah atau fokus karena
jelas tujuan serta Compensable Factors apa saja yang sudah dipilih dan
disetujui untuk dilakukan analisis.
6)
Pelaksanaan Evaluasi Jabatan
Seteleh semua informasi diperoleh, yaitu berupa kumpulan Job Desc dari
setiap Jabatan serta berbagai informasi tentang kondisi nyata setiap
faktor dalam setiap jabatan. Setelah itu, akan dilakukan evaluasi jabatan oleh
semua anggota team dan diberikan nilai/point/skor pada setiap jabatan.
7) Penyusunan
Job Grading dari hasil Penilaian Jabatan
Setelah didapat skor pada setiap jabatan, maka langkah selanjutnya adalah
membuat pengelompokan atau grading pada setiap jabatan. Hal yang penting dalam
langkah ini adalah menentukan berapa jumlah grade atau kelas, biasanya disebut
dengan Job Grade atau Job Class. Penentuannya bisa memakai jumlah grade yang
lama atau menyusun/menentukan jumlah grade yang baru. Dalam setiap Grade,
maka jabatan jabatan yang mempunyai point (range point) yang sama akan
mempunyai grade (golongan) yang sama pula.
Daftar Pustaka
Nawawi, H. Hadari,
Manajemen Sumbe Daya Manusia, UGM, Yogjakarta,2005
Handoko, Hani T. 2000. Manajemen
Personalia dan Sumberdaya Manusia. Edisi
Kedua. Cetakan Keempatbelas. Yogyakarta : BPFE.
http://adhewoot.wordpress.com/2012/10/28/analisis-jabatan-dan-analisis-beban-kerja/
Kak... mau tanya... kalo kendala yang dihadapi saat pelaksaan Work Force Analysis itu apa aja ya??? Terima kasih kalau bersedia menjawab
BalasHapus